Juni merupakan bulan special bagi saya, karena banyak hal penting terjadi pada bulan ini. Saya lahir di bulan Juni, merantau ke Bandung di bulan Juni, pun merantau ke Jepang juga di bulan Juni. Lahir dan besar di sebuah kampung bernama Kayuagung di Sumatera Selatan, kemudian tinggal dan belajar di salah satu kota terbesar di Indonesia, dan akhirnya juga berkesempatan tinggal dan belajar di kota terbesar dunia, Tokyo. Sebuah pengalaman yang tidak semua orang dapat merasakannya. Alhamdulillah.

Saya cenderung merahasiakan tanggal ulang tahun dari orang lain, dan tidak suka untuk merayakan atau dirayakan. Karena bagi saya, setiap bertambah usia, semakin berkurang pula “jatah hidup”. Keyakinan ini semakin kuat setelah saya terpapar Covid 19 pada akhir April lalu. Hidup dan mati sangat dekat. Saat ini sehat walafiat, beberapa hari, bahkan beberapa jam ke depan tidak seorang pun yang mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita. Yang jelas, ada satu hal yang pasti terjadi sebagai makhluk bernyawa, yaitu kematian. Kapan, dimana, dan seperti apa, tak seorangpun mengetahuinya sampai kematian itu sendiri tiba. Dulu saya pernah membuat tulisan seperti ini:
“Pada hakikatnya…
Kesenangan dunia itu tidak akan ada habisnya. Semakin diikuti, semakin terjebak pula pada hawa nafsu. Tapi ada yang memutusnya, yaitu kematian.
Kematian itu misteri. Kenapa? Karena Tuhan merahasiakan kapan terjadinya. Kematian tidak memandang usia dan bisa terjadi kapan saja kalau waktunya sudah tiba.
Sunnatullah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, karena kematian merupakan satu-satunya jalan untuk menuju kehidupan yang lebih kekal.
Nah tugas kita apa? Mempersiapkan diri sebelum kematian itu datang. Mempersiapkan diri untuk apa? Mempersiapkan diri untuk menghadap Sang Pencipta.
Semoga sisa hidup ini senantiasa istiqamah beribadah kepada-Nya dan bisa terus bermanfaat.
(Suzukakedai, 2 Juni 2014)”
Memang dengan mengingat matilah kita bisa mengontrol hawa nafsu dunia. Namun, bukan berarti dengan mengingat mati, kita melupakan dunia. Harus seimbang antara Hablum Minallah, Hablum Minannas dan Hablum Minal Alam. Jangan sampai kita fokus beribadah kepada Tuhan, tapi lupa dengan tetangga yang kelaparan.
Hidup selama 34 Tahun, tentu ada banyak cerita. Senang, sedih, kecewa, marah, dan lain sebagainya. Ada banyak hal yang sudah berhasil dicapai, tapi ada banyak juga hal-hal lain yang belum bisa dicapai. Semoga dengan bertambahnya usia, semakin menjadi pribadi yang lebih baik dunia akhirat. Aamin YRA.