I Got Infected!

Tidak terlalu jelas terinfeksi darimana, karena saya selalu ketat menjalankan protokol kesehatan. Tapi kalau dilihat kronologinya, kemungkinan saya terpapar pada minggu 25 April 2021.

Seperti biasa, Sabtu dan Minggu selalu saya manfaatkan untuk “safari” Ramadhan, yaitu shalat maghrib, isya, dan tarawih di masjid-masjid yang berbeda. Ini sudah saya lakukan sejak 2005, saat saya masih mahasiswa.

Hari Sabtu 24 April 2021, saya hanya di rumah karena ada deadline pekerjaan yang harus saya selesaikan. Barulah hari Minggu 25 April 2021, saya melakukan “safari”. Seingat saya, memang ada saat ketika saya sedikit abai terkait protokol kesehatan, yaitu saat memakan kurma yang disediakan masjid untuk berbuka puasa. Entah kurmanya terkena percikan air liur orang yang terinfeksi, atau pembungkusnya terkena sentuhan jamaah lain (yang saya perhatikan palah pilih, padahal isinya sama semua). Entahlah. Tapi rasa-rasanya, saat kondisi ini saya lengah.

Senin 26 April 2021, belum ada gejala, saya masih bisa beraktivitas normal. Subuh Selasa 27 April 2021, saat bangun sahur badan demam dan kepala sakit. Karena saya pikir hanya demam biasa, saya hanya minum penurun panas setelah makan sahur. Hari itu, saya tetap berpuasa, meskipun sebagian besar waktunya dipakai untuk tidur. Rabu 28 April 2021, kondisi semakin parah, badan terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk, sensitivitas indra penciuman dan perasa berkurang. Kamis 29 April 2021, saya sudah tidak kuat berpuasa, nafsu makan hilang, indra penciuman dan perasa tidak berfungsi. Makanan terasa pahit di lidah. Saya ke RS untuk swab PCR. Jumat 30 April 2021 mual dan muntah, apapun yang masuk ke perut membuat perut mual dan akhirnya keluar lagi. Sabtu 1 Mei 2021 saya mulai sedikit kesulitan bernapas, terutama saat menarik napas dalam. Sambil menunggu hasil swab PCR, saya juga test swab antigen karena ingin segera tahu hasilnya, dan sesuai dugaan (karena gejala khas covid hampir semua muncul), hasilnya positif. Hasil ini kemudian dikonfirmasi dengan hasil positif test swab PCR.

Ada banyak drama saat saya mengunjungi beberapa rumah sakit (nampaknya tetap tidak ada prosedur yang jelas meskipun wabah ini sudah berlangsung setahun lebih, bahkan RS rujukan sekalipun), sampai akhirnya saya diterima di RS Paru Rotinsulu Bandung. Selama lebih kurang 4 jam saya berbaring di bangsal pasien, dokter dan perawat melakukan diagnosis, rontgen (yg alatnya dibawa ke ruang pasien), pengambilan sampel darah, pengecekan tensi, kadar oksigen, dll. Hal ini mereka lakukan apakah saya perlu di rawat inap atau isolasi mandiri. Alhamdulillah, berdasarkan hasil diagnosis tidak ada hal serius, baik hasil rontgen, maupun hasil test darah (meskipun beberapa item hasil test di bawah rujukan). Saya akhirnya diminta untuk isolasi mandiri di rumah, dan diberi setidaknya 7 macam obat.

3 Mei 2021 keadaan sedikit lebih baik, masih terasa nyeri dan sedikit batuk. Selain itu, fungsi indra penciuman dan perasa belum pulih. Tanggal 4 Mei, saya kembali kontrol ke RS karena masih merasa sesak. Paru kembali dirontgen dan diambil sampel darah. Berdasarkan info dari dokter, paru kanan saya sedikit ada bercak putih. Saya disarankan untuk melihat perkembangan 3 hari ke depan. Merasa cukup fit, saya sempatkan membuat bahan presentasi untuk meeting keesokan harinya. Meeting tanggal 5 Mei berjalan lancar meskipun berbicara dengan ‘ngos-ngosan’. Tanggal 6 Mei pagi, saya kembali sesak, dan langsung ke RS siangnya. Dokter melakukan diagnosis. Untuk kesekian kalinya dalam seminggu terakhir, paru saya dirontgen dan diambil sampel darah. Setelah menunggu selama 2 jam, dokter menyarankan saya untuk dirawat inap. Tanpa persiapan, saat itu juga saya dipasang infus dan dipindahkan ke ruang isolasi khusus pasien Covid.

Mental saya cukup down saat itu, karena belum pernah saya masuk ruang isolasi dimana keluarga dan orang lain tidak diperbolehkan untuk menjenguk. Hanya ada pasien, dokter, dan perawat yang selalu menggunakan APD. Selama di rawat, ada dua cabang infus yang dipasang. Selain itu, saya juga mengenakan selang oksigen untuk mempermudah bernafas.

Dokter dan perawat hanya datang 3 kali sehari. Pagi jam 7, siang jam 12, dan sore jam 17. Setiap pagi, cairan antibiotik dipasang melalui infus, saat cairan itu masuk, terasa mual dan sakit pada bagian tangan yang diinfus. Selain itu, ada obat lain yang disuntikkan melalui selang infus, dan disuntikkan di bagian lengan. Saturasi oksigen dalam darah (harus di atas 95%), suhu tubuh, dan tensi darah dicek. Siangnya, hanya diberi obat. Kemudian jam 17, kembali disuntikkan obat melalui selang infus dan juga disuntikkan di bagian lengan. Begitulah berulang selama 6 hari, sampai akhirnya saya diperbolehkan pulang.

Waktu 6 hari di RS, merupakan pengalaman hidup yang belum saya alami sebelumnya, karena harus berada di ruang isolasi, tanpa ada keluarga dan teman yang menjenguk. Selama di RS, kuncinya adalah menghindari berita-berita yang bisa membuat semangat down. Selama di RS, ada beberapa publik figure yang meninggal akibat Covid yang tanpa sengaja saya baca, dan itu membuat saya sedikit down.

Saya sangat berterima kasih kepada para dokter dan perawat yang tanpa lelah dengan baju APD-nya merawat saya sampai saya sembuh. Meskipun saya tidak mengenali wajah mereka, karena selalu mengenakan masker dan APD, semoga Allah swt membalas semua kebaikan bapak ibu sekalian.

Saya juga berterima kasih kepada keluarga, teman-teman, terutama Bu Sofi dan Prof. Iswandi yang memberikan support dari sejak saya terkonfirmasi positif Covid, hingga saya keluar dari RS dan isolasi mandiri. Semoga Allah swt membalas budi baik bapak/ibu dan teman-teman semua.

Kepada keluarga, teman-teman, semoga ini jadi pelajaran. Saya yg dengan sangat ketat menerapkan protokol kesehatan masih bisa terinfeksi. Mohon tetap menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin, sayangi diri dan keluarga Anda.

Tinggalkan komentar