Sudah hampir 7 bulan hidup di Jepang, Negara yang punya budaya sangat berbeda dengan Indonesia. Masih segar dalam ingatan, saat tahun 2005 saya pindah ke Bandung untuk kuliah. Saat itu sama, saya pindah ke daerah yang mempunyai budaya yang berbeda. Tapi, karena masih di Indonesia tidak terlalu mencolok perbedaan itu, salah satunya mungkin cara bertutur kata. Orang Sunda kalau berbicara cenderung dengan suara rendah, sedangkan saya, yang notabene orang Kayuagung (Palembang coret), cenderung berbicara dengan nada tinggi, meskipun dalam keadaan normal dalam artian tidak sedang marah. Di kota ini pula saya “melancarkan” bahasa Indonesia saya, karena terus terang 6 bulan pertama tinggal di Bandung masih lumayan kaku untuk berbicara dengan bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia di Palembang hanya digunakan di kelas, sedang pergaulan sehari-hari menggunakan bahasa Palembang atau Kayuagung.
Yah, saat ini saya di Jepang, melanjutkan pendidikan, semua mengalir begitu saja. Teringat saat masih SMA, keinginan cuma satu, ingin menjadi pegawai bank. Sempat memilih IPS sebagai jurusan di SMA, tapi ditolak karena nilai IPA lebih dominan. Masuk STAN yang tidak kesampaian, daftar FK Unsri yang tidak lulus, malah “terjerumus” ke Teknik Sipil ITB. Benar-benar diluar rencana.
Berangkat ke Jepang dengan pengetahuan bahasa seadanya, Hanya sekedar tahu arigatou, ohayou gozaimasu, dan beberapa kata sederhana lainnya. Memang sebelum berangkat saya sempat belajar bahasa Jepang di Bandung, dan itu cukup buat saya mengerti hiragana dan katakana, tapi tidak untuk kanji.
Orang lain mungkin sangat tertarik dengan Jepang, bahkan mereka rela menghabiskan banyak uang dan waktu untuk menikmati hal yang berbau Jepang. Mulai dari anime, manga, J-pop, dorama. Sesuatu yang tidak menarik bagi saya. Mungkin saya hanya tertarik dengan Doraemon atau Dragon Ball yang disiarkan di TV swasta nasional itu. Selebihnya, tidak ada yang membuat saya tertarik dengan Jepang (saat itu).
Lah kenapa melanjutkan pendidikan di Jepang? Salah satu yang membuat saya tertarik adalah penelitian tentang bangunan tahan gempa di Jepang cukup intens, karena Jepang sama halnya dengan Indonesia rawan akan gempa bumi. Dan itu adalah latar belakang pendidikan saya selama ini.
Pertama kali menginjakkan kaki di Jepang saya begitu kagum dengan kedisiplinan dan kerja keras masyarakatnya. Transportasi yang terintegrasi dengan sangat baik, dan kepatuhan masyarakatnya dengan aturan patut menjadi contoh bagi bangsa kita. Memang pada dasarnya masyarakat Jepang adalah masyarakat yang cenderung homogen, dan mungkin ini yang menjadi salah satu faktor mengapa masyarakat di Negara ini mudah untuk diatur. Bandingkan dengan Indonesia, yang begitu heterogen. Bahkan, jarak hanya beberapa kilometer-pun, sudah berbeda bahasa dan budaya.
Saya jadi ingat pepatah Jawa, “Witing tresno jalaran soko kulino”, yang artinya kurang lebih, “Cinta tumbuh karena terbiasa”. Saya pun jatuh cinta dengan Jepang, Negara yang pada awalnya tidak menarik bagi saya. Banyak hal baru yang saya dapatkan di Negara ini, budaya, kehidupan sosial, dan masih banyak lagi. Okay, mudah-mudahan saya bisa sharing di sini!